adsense

KONSEP DAN TEKNIK PENCEGAHAN INFEKSI DI KAMAR BEDAH

1. LATAR BELAKANG
Konsep dan Tekhnik Pencegahan Infeksi di Kamar Bedah Sebuah kamar operasi bisa jadi me­rupakan ruangan paling istimewa di rumah sakit. Pengelolaannya bi­sa dibilang paling khusus diban­ding ruangan lain pada umumnya. Di tempat ini segala tindakan invasif bisa dilakukan terhadap tubuh manusia. Untuk menjamin tindakan operasi berjalan de­ngan lancar dan meminimalisir faktor-faktor pengganggu, maka perlu dilakukan pe­ngendalian kamar operasi yang baik. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kamar operasi, kerja sama yang baik sangat diperlukan oleh para personelnya, baik dokter, perawat, anestesi maupun per­­sonel kamar operasi lainnya. 

Kamar operasi bisa menjadi tempat yang mudah menularkan infeksi dari dan ke penderita. Penularan infeksi yang terjadi tergantung dari dosis kuman, ke­ren­tanan individu, waktu kontak, virulensi agen infeksi, dan berbanding terbalik de­ngan daya tahan tubuh. infeksi me­ru­pakan interaksi antara host, agent dan environment. Keterangan tentang sumber infeksi ditambahkan pula menurut Prof. Dr. dr. Bambang Prijambodo, Sp.B., Sp.OT, sumber infeksi bisa berasal dari per­sonel kamar bedah, alat dan bahan pe­nunjang pembedahan, lingkungan pem­be­dahan dan pasien yang akan dibedah. Me­kanisme infeksi bisa terjadi dengan ber­bagai cara, yaitu langsung, tidak langsung, airborne dan vectorborne atau me­la­lui vektor (perantara). Dengan demikian saat pasca operasi, hari ra­wat inap menjadi le­bih pendek. Pemendekan hari rawat inap bisa me­mang­kas biaya perawat­an pasien. Dan hasil operasi yang baik akan meng­hin­darkan rumah sakit dari tuntutan hu­kum akibat ketidak­puas­an pasien dan ke­luar­ga­nya. Pengendalian meli­puti faktor-faktor meli­puti sumber daya manusia, sa­ra­na, dan ling­ku­ngan. 

Para pengguna ka­­mar ope­­rasi ha­ruslah SDM yang taat pa­da pro­sedur standard ope­rasi dan tram­pil. Pe­ra­wat da­lam hal ini ada­lah mitra ker­ja dok­ter, bu­kan pem­bantu dokter. Dok­ter de­ngan dibantu perawat ha­rus bi­sa me­lak­sanakan pembedahan secara ce­pat dan atraumatik. Jum­lah petugas yang be­ra­da di kamar ope­rasi saat du­rante ope­rasi tidak boleh terlalu crowded. Cukup 2 orang ahli anestesi yang terdiri dari dokter anestesi dan perawat anestesi, tiga orang ahli bedah yang terdiri dari operator, asisten I dan asisten II, instrumentator dan omloop yang merupakan perawat bedah. Gedung dan ruangan be­dah harus dirancang secara khusus yang merupakan ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang bersih dan tidak ber­hu­bungan de­ngan udara luar. Ruangan ha­rus lengkap de­ngan pembagian areal yang sistematis me­nurut arus penderita dan petugas. Ge­dung bedah juga harus memiliki kualitas yang baik sehingga tahan lama. Permu­ka­an dinding gedung haruslah mudah di­ber­sihkan sehingga kebersihan dan keaseptisan ruangan dapat terjaga.

2. PENGERTIAN PENCEGAHAN & PENGENDALIAN INFEKSI
Pencegahan infeksi sering diartikan dalam pengertian sempit yaitu tindakan suci hama atau pemutusan rantai transmisi penyakit. Yang mengandung unsur melakukan eliminasi agen dan reservoir, menghambat penularan infeksi, dan melindungi host dari infeksi. Kamar operasi yang kurang terjaga ke-aseptisannya akan ber­dampak pada infeksi luka operasi pada pasien yang bisa diketahui pasca operasi.

3. TUJUAN PENCEGAHAN & PENGENDALIAN INFEKSI
a.   Mencegah terjadinya komplikasi infeksi pasca tindakan (terutama untuk tindakan atau prosedur klinik menggunakan instrumen)
b.     Menghindari terjadinya penularan penyakit infeksi berbahaya (HIV, Hepatitis B), bukan hanya pasien ke pasien, tetapi juga dari pasien ke petugas kesehatan atau sebaliknya.

4. DAMPAK INFEKSI
a.      Mengakibatkan proses penyebuhan luka semakin lama.
b.      Menyebabkan cacat fungsional, stress emosional dan dapat menyebabkan cacat yang permanen serta kematian.
c.      Meningkatkan biaya kesehatan diberbagai negara yang tidak mampu dengan meningkatkan lama perawatan di rumah sakit, pengobatan dengan obat-obat mahal dan penggunaan pelayanan lainnya, serta tuntutan hukum. 

5. FAKTOR TERJADI INFEKSI
Faktor - faktor yang mempengaruhi proses infeksi adalah :
a.      Sumber Penyakit
Sumber penyakit dapat mempengaruhi apakah infeksi berjalan dengan cepat atau lambat.
b.      Kuman Penyebab
Kuman penyebab dapat menentukan jumah mikroorganisme, kemampuan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan virulensinya.
c.       Cara Membebaskan Sumber Dari Kuman      
Cara membebaskan kuman dapat menentukan apakah proses infeksi cepat teratasi atau diperlambat, seperti tingkat keasaman (pH), suhu, penyinaran (cahaya) dan lain-lain.
d.      Cara  Penularan
Cara penularan seperti kontak langsung melalui makanan atau udara dapat menyebabkan penyebaran kuman kedalam tubuh.
e.       Cara Masuknya Kuman
Proses penyebaran kuman berbeda tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, kulit dan lain-lain.
f.       Daya Tahan Tubuh
Daya tahan tubuh yang baik dapat memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan. Demikian pula sebaliknya, daya tahan tubuh yang buruk dapat memperburuk proses infeksi.
Selain faktor- faktor diatas, terdapat faktor lain seperti status gizi atau nutrisi, tingkat stress pada tubuh, faktor usia, dan kebiasaan yang tidak sehat.

6. KONTROL KAMAR INFEKSI  DI KAMAR BEDAH
    Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari:
a. Peningkatan daya tahan penjamu, dapat  pemberian imunisasi aktif (contoh vaksinasi hepatitis B), atau pemberian imunisasi pasif (imunoglobulin). Promosi kesehatan secara umum termasuk nutrisi yang adekuat akan meningkatkan daya tahan tubuh.
b.    Inaktivasi agen penyebab infeksi, dapat dilakukan  metode fisik maupun kimiawi. Contoh metode fisik adalah pemanasan (pasteurisasi atau sterilisasi).Metode kimiawi termasuk klorinasi air, disinfeksi.
c.  Memutus mata rantai penularan. Merupakan hal yang paling mudah untuk mencegah penularan penyakit infeksi, tetapi hasilnya bergantung kepeda ketaatan petugas dalam melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan. Tindakan pencegahan ini telah disusun dalam suatu “Isolation Precautions” (Kewaspadaan Isolasi) yang terdiri dari 2 pilar/tingkatan, yaitu “Standard Precautions” (Kewaspadaan Standar) dan “Transmission based Precautions” (Kewaspadaan berdasarkan cara penularan)
d. Tindakan pencegahan paska pajanan (“Post Exposure Prophylaxis”/PEP) terhadap petugas kesehatan. Berkaitan  pencegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah atau cairan tubuh lainnya, yang sering terjadi karena luka tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya. Penyakit yang perlu mendapatkan perhatian adalah hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV.

7. PRINSIP - PRINSIP
a.   Setiap individu (pasien dan petugas kesehatan) dianggap berpotensi menularkan penyakit
b.   Cuci tangan adalah prosedur praktis dlam menghindari kontaminasi silang. Cuci tangan dilakukan: sebelum dan sesudah memeriksa pasien; sebelum dan setelah memakai sarung tangan; setelah terpapar darah atau cairan tubuh lainnya; cuci tangan selama 10-15 detik dengan sabun dan air mengalir; sebagai pengganti cuci tangan dengan air, gunakan larutan alcohol (100ml alcohol 60-90% + 2ml gliserin)
c.   Gunakan sarung tangan setiap akan terjadi kontak dengan bagian atau bahan berpotensi menularkan penyakit (laserasi kulit, membrane mukosa, darah, secret, cairan tubuh lain). Sarung tangan digunakan: saat melakukan tindakan; saat menangani alat/bahan terkontaminasi; saat membuang bahan-bahan/limbah terkontaminasi. Ganti sarung tangan setiap kali memeriksa pasien yang berbeda. Sarung tangan dapat digunakan kembali apabila telah didekontaminasi dalam larutan klorin 0,5%, kemudian dicuci dan dibilas, selanjutnya disterilisasi atau di-DTT.
d.   Gunakan pelindung fisik (kaca mata pelindung, masker, apron atau pelepas plastic) untuk menghindari percikan secret atau cairan tubuh
e. Gunakan bahan antiseptic untuk membersihkan kulit atau membrane mukosa sebelum melakukan operasi, membersihkan luka, atau menggosok tangan sebelum operasi dengan bahan antiseptic berbahan dasar alcohol
f.  Buang bahan-bahan terinfeksi setelah terpakai dengan aman untuk melindungi petugas pembuangan dan mencegah cidera maupun penularan infeksi kepada orang lain/masyarakat
g.   Bekerja hati-hati (perhatikan factor keamanan). Gunakan langkah dan teknik yang baik serta aman saat menggunakan dan menangani benda tajam (jarum suntik, pisau bedah). Mencegah luka tusuk jarum di kamar operasi : gunakan wadah yang aman; jangan memberikan alat tajam selain menggunakan wadah yang aman; beritahu petugas kesehatan sebelum memberikan alat-alat tajam dalam wadah yang aman.. Menggunakan jarum dan alat suntik yang benar : gunakan jarum dan suntik sekali pakai; jangan melepaskan jarum dari alat suntik setelah digunakan; jangan memasang tutup jarum, membengkokkan atau mematahkan jarum sebelum dibuang; lakukan dekontaminasi terhadap jarum dan alat suntik sebelum dibuang (yang disposibel) atau sebelum diproses (dipakai ulang); buang jarum dan alat suntik ke dalam wadah tahan tusuk; hancurkan jarum dan alat suntik dengan dibakar (incenerated).
h.  Keterbatasan sumber daya bukan merupakan alas an bagi petugas untuk merubah prosedur atau bahan-bahan yang dipergunakan untuk pencegahan infeksi karena masih banyak proses alternative yang memenuhi kaidah ilmiah dan terbukti cukup efektif.



PERIOPERATIF
POSISI PASIEN DI MEJA OPERASI”

Disusun Oleh :

INDAH ISNIALITA PUTRI

POLTEKKES TANJUNG KARANG

D IV KEPERAWATAN TK 4



KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.


Bandar Lampung,                      



DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi 
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang 
1.2  Rumusan  Masalah 
1.3  Tujuan

BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian
2.2  Tujuan
2.3  Prinsip dalam mengatur posisi pasien
2.4  Faktor resiko
2.5  Persiapan mengatur posisi pasien
2.6  Yang harus diperhatikan dalam mengatur posisi pasien
2.7  Jenis jenis posisi pasien

BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan
3.2  Saran 
 Daftar Pustaka          
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Banyak kondisi patologi yang mempengaruhi kesejajaran dan mobilitas tubuh. Abnormalitas postur kongenital atau didapat memengaruhi efisiensi sistem muskulus skeletal, serta kesejajaran, keseimbangan, dan penampilan tubuh. Abnormalitas  postur dapat menghambat kesejajaran, mobilitas, atau keduanya sehingga membatasi rentang gerak pada beberapa sendi.
Untuk mencegah abnormalitas postur tersebut dapat dilakukan dengan pengaturan posisi pasien, selain itu persiapan seperti mengkaji kekuatan otot, mobilitas sendi pasien, adanya paralisis atau paresis, hipotensi ortostastik, toleransi aktivitas, tingkat kesadaran, tingkat kenyamanan, dan kemampuan untuk mengikuti instruksi juga penting dilakukan.
Pada ruangan operasi postur tubuh menjadi salah satu hal yang penting yang perlu diperhatikan. Pasien tidak akan bergerak pada suatu posisi dalam waktu yang cukup lama, dikarenakan pasien dalam keadaan tidak sadar atau teranestesi. Sehingga posisi pasien sangat penting untuk mencegah cidera yang timbul. Posisi pasien juga dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan tindakan saat operasi berlangung.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini sebagai berikut :
1.  Apakah pengertian posisi pasien?
2.  Apakah tujuan posisi pasien?
3.  Apakah prinsip dalam mengatur posisi pasien di meja operasi?
4.  Bagaimana jenis – jenis posisi?
5.  Bagaimana memposisikan pasien lansia?
6.  Bagaimana memposisikan pasien pediatric?

1.3  Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.  Untuk mendefinisikan pengaturan posisi pasien.
2.  Mengetahui tujuan posisi pasien
3.  Mengetahui prinsip dalam mengatur posisi pasien
4.  Mengetahui jenis jenis posisi pasien
5.  Mengetahui cara memposisikan pasien lansia
6.  Mengetahui cara memposisikan pasien pediatric

MAKALAH DRAPING PADA AREA OPERASI / PEMBEDAHAN



DRAPPING PADA AREA OPERASI / PEMBEDAHAN


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.


Bandar Lampung, 24 Desember 2018
.

Indah Isnialita Putri









DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................................ ii
Daftar Isi ..................................................................................................................  iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang ....................................................................................................  1
1.2  Rumusan  Masalah ..............................................................................................  2
1.3  Tujuan .................................................................................................................  2

BAB II PEMBAHASAN
2.1  Pengertian drapping pada area operasi ................................................................  3
2.2  Tujuan drapping pada area operasi....................................................................... 3
2.3  Prinsip drapping pada area operasi....................................................................... 4
2.4  Bertanggung jawab............................................................................................... 5
2.5  Bahan untuk drapping .......................................................................................... 6
2.6  Persiapan alat ....................................................................................................... 8
2.7  Prosedur drapping................................................................................................. 8

BAB III PENUTUP
3.1  Kesimpulan .........................................................................................................  11
3.2  Saran ...................................................................................................................  11

Daftar Pustaka......................................................................................................... 12



 BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Association of Surgical Technologi (AST), 2008, mengembangkan dan merekomendasikan tentang Standar draping sebagai panduan untuk mendukung pelayanan perawatan dikamar bedah dalam penekanan standar praktik terbaik yang berhubungan dengan draping pada prosedur bedah. Tujuan dari standar yang direkomendasikan adalah untuk memberikan garis tegas bahwa anggota tim bedah dapat menggunakan standar praktek tersebut serta dikembangkan dalam menerapkan kebijakan pada prosedur draping di kamar bedah. Standar yang direkomendasikan dan disajikan dengan pengertian bahwa standar tersebut menjadi tanggung jawab dari tenaga kesehatan untuk mengembangkan, menyetujui, dan menetapkan kebijakan dan prosedur draping bedah sesuai dengan protokol yang diterapkan dikamar bedah.

1.2   Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini sebagai berikut :
  1.       Apa pengertian drapping pada area operasi?
  2.       Apa tujuan dari drapping pada area operasi?
  3.       Bagaimana prinsipnya?
  4.       Bagaimana bahan untuk drapping?
  5.       Bagaimana persiapan alatnya?
  6.       Bagaimana prosedur nya? 

1.3   Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
  1.          Mengetahui  pengertian drapping pada area operasi
  2.      Mengetahui tujuan dari drapping pada area operasi
  3.      Mengetahui prinsipnya
  4.      Mengetahui  bahan untuk drapping
  5.      Mengetahui persiapan alatnya
  6.      Mengetahui prosedur nya


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Drapping Pada Area Operasi
            Draping adalah satu lagi dari kegiatan presisi yang dilakukan di kamar operasi. Draping bedah pasien adalah menempatkan penutup steril pada pasien sehingga hanya tempat operasi yang terkena. Dengan demikian, daerah kulit yang belum siap untuk operasi tertutup agar tidak akan mencemari bagian yang steril. Selain pasien, peralatan yang digunakan dalam area bedah segera harus ditutupi dengan tirai steril untuk mencegah kontaminasi luka (AORN, 2008)
Draping adalah istilah yang digunakan di instalasi bedah sebagai suatu teknik atau seni dalam menutup daerah sayatan pembedahan. Drapping merupakan prosedur menutup pasien yang sudah berada di atas meja operasi dengan menggunakan alat tenun steril, dengan tujuan memberi batas yang tegas pada daerah steril pembedahan (Depkes RI,1993).
Drapping adalah suatu prosedur penutupan pasien yang sudah dimeja operasi dengan menggunakan alat tenun steril, dengan tujuan memberi  batas tegas daerah steril pada daerah pembedahan setelah permukaan kulit dilakukan desinfeksi. Yang meliputi seluruh permukaan dimana alat-alat steril akan diletakan dan daerah sekitar lokasi pembedahan.

2.2 Tujuan Drapping Pada Area Operasi
            Secara khusus, teknik draping berbeda pada setiap tempat atau daerah insisi dan tergantung kepada bentuk posisi pembedahan. Secara umum, teknik draping bertujuan untuk mempertahankan kesterilan pada daerah sekitar inisisi operasi. Tujuan dari draping adalah untuk menciptakan lapangan steril dengan cara penempatan yang tepat dan hati-hati dari linen sebelum operasi dimulai dan untuk menjaga sterilitas permukaan instrumen yang steril dan sarung tangan dapat ditempatkan selama operasi.

2.3  Prinsip Drapping Pada Area Operasi
Menurut Association of periOperative Registered Nurses (AORN), 2006. Prinsip dari draping adalah sebagai berikut
1.    Terisolasi (Isolated)
Kotor dari bersih (misal, pangkal paha, kolostomi dan peralatan dari daerah yang akan disiapkan). Isolasi dicapai dengan menggunakan penghalang yang tahan dari air, biasanya dibuat dari bahan plastik. Banyak bahan untuk menahan yang dapat digunakan.
2.    Penghalang (Barrier)
Menyediakan lapisan kedap dan harus memiliki film plastik untuk mencegah pemogokan-selesai.
3.    Lapangan Steril
Penciptaan lapangan steril adalah melalui presentasi steril dari tirai dan teknik aplikasi aseptik. Jika penghalang yang digunakan tidak mempan, lapisan kedap tambahan perlu ditambahkan.
4.    Permukaan steril
Karena kulit tidak dapat disterilkan, maka perlu menerapkan penghalang untuk menciptakan permukaan steril.
5.    Penutup Peralatan
Tirai steril menutupi peralatan steril atau mengatur peralatan yang digunakan di lapangan steril. Hal ini membantu untuk melindungi pasien dari peralatan serta untuk melindungi dan memperpanjang umur peralatan.
6.    Kontrol Cairan
Pengumpulan cairan menjaga pasien tetap kering, mengurangi paparan pekerja kesehatan. Sebuah sistem kontrol cairan harus digunakan setiap saat dan prosedur ini dikenal untuk menyertakan sejumlah besar cairan tubuh atau mengakhiri irigasi
            Sedangkan menurut Depkes tahun 1993, prinsip dari draping yaitu :
1.         Harus dilaksanakan dengan teliti dan hati-hati
2.         Perawat Instrumen (Scrub Nurse) harus memahami dengan tepat prosedur draping
3.      Drape yang terpasang tidak boleh berpindah-pindah sampai operasi berakhir dan harus    dijaga sterilitasnya
4.         Pakailah duk klem pada setiap sudut daerah sayatan agar alat tenun tidak mudah bergeser
5.      Tim bedah yang memakai baju steril harus selalu menghadap tempat yang sudah tertutup  alat tenun steril.
6.  Perawat sirkuler (circulating nurse) harus berdiri menghadap scrub nurse untuk mengingatkan jangan sampai draping terkontaminasi
7.         Bila alat tenun sudah terkontaminasi, harus segera diganti
8.         Sekitar lantai tidak boleh ada genangan air
9.         Hindari mengibas alat tenun terlalu tinggi sehingga dapat menyentuh lampu operasi atau alat tenun lainnya
10.     Lindungilah sarung tangan dengan cara meletakkan tangan di bawah lipatan pada saat drapping, hindari menyentuh kulit pasien
11. Jika pemasangan alat tenun steril sudah selesai dan ada yang jatuh di bawah batas pinggang jangan diambil
12. Jika ragu-ragu terhadap sterilitas alat tenun, maka alat tenun dinyatakan sudah terkontaminasi.

2.4  Macam Tenun/ Linen Untuk Draping
. Laken besar / atas
1.      Laken besar /bawah
2.      Pembungkus  instrument
3.      Alas meja dorong (trolley)
4.      Duk bolong
5.      Duk rapat
6.      Laken kecil/samping
7.      Sarung mayo
8.      Baju & celana kmr operasi
9.      Jas operasi
10.  Topi operasi
11.  Sarung kaki
12.  Lap tangan/handuk
13.  Baju pasien
14.  Perlak besar dan kecil

2.5  Ukuran Tenun Untuk Draping
1.      Sarung  standar mayo             140cm x  75cm
2.      Sarung kaki                             140cm x  60cm
3.      Duk rapat                                100cm x  75cm
4.      Duk lobang                             80cm x   80cm,ø10cm
5.      Laken kecil/samping               150cm x 100cm
6.      Laken besar / bawah               240cm x 200cm
7.      Laken besar / atas                    210cm x 150cm
8.      Pembungkus instrumen           100cm x 100cm
9.      Pembungkus linen/waskom     150cm x 150cm
10.  Perlak mayo                            50cm x   40cm
11.  Perlak besar                             150cm x   75cm
12.  Lap tangan/handuk                 30cm x  15cm

2.6  Karakteristik Bahan Draping
·         Resisten terhadap abrasi
·         Sebagai Barier (anti mikroorganisme)
·         Biocompatibility (Free toxic)
·         Drapebility
·         Dapat mencegah listrik statik
·         Nonflamable (tdk menginduksi kebakaran)
·         Bebas serat
·         Tensile strenght (kuat thd tahanan)

2.7  Bahan Untuk Draping
·                     Bahan Pakai Ulang (Reusable)
1.             Penggunaannya terutama untuk penggunaan drapping atau jas operasi yg digunakan berkali-kali, bahannya impermeable terhadap cairan (dlm kondisi tertentu)
2.             Proses pencucian, setrika dan sterilisasi menyebabkan seratnya mengkisut
3.             Siklus diatas menyebabkan kecenderungan mengubah struktur material
4.             Beberapa pabrikan melaporkan kerusakan struktur material setelah 75-100 kali siklus. 
Yaitu : Linen :
1.             Memerlukan pencucian
2.             Memerlukan pelipatan yang benar
3.             Memerlukan proses sterilisasi
4.             Adanya lipatan/jahitan yang menjadi tempat kuman
5.             Tidak kedap air ==> sumber kontaminasi

·                     Bahan Sekali Pakai (Disposible)
1.             Mencegah penetrasi bakteri dan lelehan cairan 
2.             Lembut, bebas serat,  ringan,  padat, tahan kelembaban, non iritasi dan bebas listrik statik
3.             Menurunkan kontaminasi mikroorganisme berbahaya / infeksius dari ekskresi dan cairan tubuh dalam proses laundry dimana pada bahan pakai ulang mempunyai resiko yg besar.
4.             Penyimpanan, transportasi, dan pembuangan limbah biasanya menjadi masalah
5.             Penggunaan insenerator cukup baik tetapi harus di olah dengan baik agar tidak mencemarkan lingkungan.

Contoh :
Non Woven (Kertas)

1.                  Baik sebagai proteksi terhadap kontaminasi
2.                  Tidak lembab
3.                  Mahal
4.                  Saat ini semakin disenangi untuk dipakai
5.                  Kedap air
6.                  Dispossible


  Plastic Inscisional Drapes
1.                  Terbuat dari bahan polyvinyl
2.                  Tersedia dalam kemasan steril dalam berbagai ukuran
3.                  Insisi dapat dilakukan langsung diatas permukaan yg melekat
4.                 Memudahkan draping pada area tubuh yg ireguler (leher, sekitar telinga, ekstermitas dan sendi)
2.3  Persiapan Alat
1.         Jenis alat tenun untuk draping
a.    Laken operasi besar rapat
b.    Laken operasi besar bolong
c.    Pembungkus alat (laken berlobang)
d.   Alas meja dorong (trolley)
e.    Duk bolong
f.     Duk rapat
g.    Laken kecil
h.    Sarung mayo
i.      Baju dan celana operasi
j.      Topi operasi
k.    Sarung couter
l.      Barakshort
m.  Mitella
n.    Kantong sarung tangan
o.    Kantong canulla, suction dan cauter
p.    Sarung kaki
q.    Sarung tabung 02
r.     Lap tangan atau handuk
s.     Baju pasien
t.     Perlak besar dan kecil

2.4  Prosedur
1.      Pastikan drapping dibuka oleh perawat sirkuler dengan tidak menyentuh bagian yang steril
2.      Menutup batas bagian bawah insisi dengan cara : perawat instrumen membawa lipatan duk ke meja operasi. Dengan berdiri jauh dari meja, satu tangan dari perawat instrumen memberikan ujung lipatan duk di atas pasien sehingga menutup bagian bawah daerah kulit yang telah dilakukan antiseptik dan menutup bagian bawah area insisi dengan duk panjang steril.
3.      Menutup batas bagian atas insisi, dengan membentangkan ujung atas duk laparastomi di atas anastesi screen( tabir anastesi). Perhatikan bahwa tangan yang menyentuh daerah yang tidak steril terlindung dalam lipatan kain dan duk dirapihkan dengan tangan lain.
4.      Menutup batas bagian lateral insisi kanan dan kiri dengan duk yang lebih kecil lalu pakailah klem pada bagian / sudut – sudut untuk daerah yang akan di operasi.

Drapping Kepala





DAFTAR PUSTAKA 
AORN, Inc., “Recommended Practices for selection and Use of Surgical Gowns and Drapes,” Standards, Recommended Practices, and Guidelines, AORN, Inc.: Denver, 2006
AORN, Inc., “Recommended practices for skin preparation of patients”. Standards, Recommended Practices, and Guidelines. Denver, Colo: AORN, Inc. 2005
Depkes RI, 1993. “Pedoman Kerja Perawar Kamar Operasi”, Jakarta: Depkes RI

PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN INSTRUMEN BEDAH OPERASI

          BAB I PENDAHULUAN 1.1.    Latar Belakang Instrumen adalah aset utama dan menunjukan angka yang besar pada pembelajaran total rum...