adsense

Laporan Pendahuluan Kangker Tiroid



BAB I
LAPORAN PENDAHULUAN
KANGKER TIROID
 (CA THYROID)

1. Dasar Teori
1.1 Definisi Diagnosa Medis
Kanker thiroid merupakan keganasan endokrin yang tersering dijumpai dan diperkirakan 1,1% dari seluruh keganasan kanker pada manusia. Pada 2004 American Cancer Society memperkirakan terdapat kurang lebih 22.500 kasus baru kanker thiroid di Amerika Serikat. Dimana perbandingan perempuan dan laki-laki adalah 3 : 1, dengan estimasi 16.875 kasus pada perempuan dan 5.625 kasus pada laki-laki. Satu di Indonesia dan regristasi perhimpunan dokter spesialis patologi di Indonesia kanker tiroid menempati urutan ke-9 dari 10 kanker terbanyak (4,43%).

Tiroidektomi, dapat dilakukan pada pasien dengan kangker tiroid, hipertiroid, reaksi obat terhadap zat - zat antitiroid, wanita hamil yang tidak dapat ditanggulangi dengan obat, pasien yang tidak ingin terapi radiasi dan goiter yang besar yang tidak berespons terhadap obat antitiroid. ada dua jenis tiroidektomi, yaitu :
1. Tiroidektomi total, kelenjar tiroid siangkat seluruhnya. Biasanya dilakukan pada kasus - kasus malignasi. pengobatan tiroid.
2. Tiroidektomi parsial : 5/6 dari kelenjar diangkat ketika obat antitiroid tidak mampu untuk mengoreksi hipertiroid atau terapi RAI merupakan suatu kontraindikasi.

1.2 Epidemiologi Kasus
Karsinoma tiroid menempati urutan ke-9 dari 10 keganasan tersering. Sekitar 3-5% dari semua tumor maligna. Karsinoma tiroid termasuk kanker kelenjar endokrin terbanyak jumlahnya, karsinoma tiroid hampir 10x lebih banyak dari kelenjar endokrin lainnya. Angka insiden tahunan kanker tiroid bervariasi di seluruh dunia, yaitu dari 0,5 – 10 per 100.000 populasi. Insidennya lebih tinggi di negara dengan struma endemik. Insiden karsinoma tiroid di Indonesia belum diketahui hingga sekarang, disebabkan belum adanya pendataan keganasan yang terpadu. Di Amerika Serikat insiden karsinoma tiroid pada tahun 1970 adalah 5,5 per 100.000 pada wanita dan 2,4 per 100.000 pada laki-laki.

Karsinoma tiroid didapat pada segala usia dengan puncak pada usia muda (7 – 20 tahun) dan usia setengah baya (40 – 60 tahun). Berdasarkan usia penderita karsinoma tiroid terjadi sekitar 1,5% dari semua karsinoma dewasa dan 3% dari semua karsinoma anak. Menurut distribusi umur, kasus-kasus di RSCM Jakarta tersering berkisar pada umur 40 – 60 tahun (1948). Winship (1967) mengemukakan umur yang sering terkena adalah antara 50 – 70 tahun. Berdasarkan jenis histopatologi, sebarannya adalah karsinoma tiroid jenis papilar (71,4%), karsinoma tiroid jenis folikular (16,7%), karsinoma tiroid jenis anplastik (8,4%), dan karsinoma tiroid jenis medular (1,4%).

1.3 Etiologi
·    Radiasi eksternal kepala, leher atau dada pada bayi dan anak-anak meningkatkan resiko karsinoma tiroid, tetapi radiasi kadang-kadang dilakukan untuk mengecilkan jaringan tonsil dan adeonoid yang membesar atau mengurangi pembesaran kelenjar timus. Bagi individu yang terkena radiasi eksternal dalam usia kanak-kanak terdapat peningkatan insiden kanker tiroid dalam 5-40 tahun sesudah penyinaran akibatnya, individunya yang menjalani terapi radiasi harus berkonsultasi dengan dokter dan meminta pemeriksaan pemindai isotoptiroid sebagai bagian dari pemeriksaan evaluasi, mengikuti terapi yang dianjurkan untuk kelainan pada kelenjar tersebut serta melanjutkan pemeriksaan umum atau check-up setiap setahun sekali jika semua hasil pemeriksaannya normal.

      Bermutasinya (perubahan genetik) pada sel-sel tiroid mutasi nya sel-sel belum diketahui secara rinci, tetapi ada kemungkinan mutasi sel tersebut disebabkan karena kurangnya zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia. Faktor genetika memang masih jarang ditemukan pada penderita kanker ini. Tetapi ketika orang tua kita memiliki riwayat penyakit kanker ini ada kemungkinan kita juga dapat terkena kanker tersebut atau mendapat penyakit tersebut.

     Faktor lingkungan dan radiasi, faktor lingkungan ini dapat terjadi dari paparan radiasi yang berlebihan yang menyebabkan sel-sel hormon pada kelenjar tiroid berkembang tidak sempurna dan bermutasi jadi sel kanker.

     Kekurangan yodium, kurangnya yodium disebabkan karena adanya defisiensi material, goitrogen, dan penyakit autoimun. Geitrogen adalah terhambatnya proses pengambilan yodium dari dalam darah menuju kelenjar tiroid dikarenakan zat-zat yang terdapat dalam kacang-kacangan dan kubis-kubisan.
·     Kekurangan enzim dalam tubuh kita meyebabkan sel-sel hormon yang dibutuhkan oleh tubuh tidak terpenuhi. Keadaan seperti ini menyebabkan sel hormon dalam kelenjar tiroid tidak mencukupi. Keadaan seperti ini dapat memicu perkembangan sel kanker yang terdapat dalam tubuh manusia.

1.4 Tanda dan Gejala
Gejala utama dari kanker ini adalah munculnya benjolan atau pembengkakan pada bagian depan dari leher, lebih tepatnya dibawah jakun, dan biasanya tidak terasa sakit. Tapi pada tahapan awal, kanker ini jarang menimbulkan gejala dan cenderung tdak ada gejala apapun. Sedangkan gejala lain dari kanker ini biasanya muncul setelah kanker memasuki stadium yang selanjutnya, seperti :
  1.  Sakit tenggorokan
  2. Kesulitan dalam menelan makanan
  3. Perubahan suara atau menjadi serak dan tidak membaik setelah beberapa minggu
  4. Rasa sakit pada bagian leher
  5. Pembengkakan kelenjar getah bening dibagian leher.
  6. Perlu diperhatikan, bahwa tidak semua benjolan yang muncul pada kelenjar tiroid disebabkan oleh kanker. Hanya sekitar 5% dari benjolan pada kelenjar tiroid yang disebabkan oleh kanker. Sebagian besar pembengkakan kelenjar tiroid disebabkan oleh kondisi yang kita kenal dengan nama penyakit gondokan. Kondisi ini bersifat kanker dan disebabkan oleh hipertioidisme (terlalu banyak T3 dan T4) dan hipotiroidisme (kekurangan hormon T3 dan T4).

1.5 Pemeriksaan Penunjang & Hasilnya Secara Teoritis
1.   Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang membedakan tumor jinak dan ganas tiroid belum ada yang khusus, kecuali kanker meduler, yaitu pemerikasaan kalsitonon dlam serum. Pemeriksaan T3 dan T4 kadang-kadang diperlukan karena pada karsinoma tiroid darat terjadi tiroktositosis walaupun jarang. Human Tiroglobulin (HTG) Tea dapat dipergunakan sebagai tumor marker dan kanker tiroid diferensiasi tiroid, namun peninggian HTG ini setelah tiroidektomi total merupakan indicator tumor residif atau tumbuh kembali (barsano). Kadar kalsitonim dalam serum dapat ditentukan untuk diagnosis karsinoma meduler.

2. Radiolois
1) Foto X-Ray
Pemeriksaan X-Ray jaringan lunak di leher kadang-kadang diperlukan untuk melihat obstruksi trachea karena penekanan tumor dan melihat klasifikasi pada masa tumor. Pada karsinoma pasifer dengan badan-badan psamona dapat terlihat klasifikasi halus yang disertai seppledclasification, sedangkan pada karsinoma meduler klasifikasi lebih jelas di massa tumor. Kadang-kadang klasifikasi juga terlihat pada metastasis karsinoma pada kelenjar getah benin. Pemeriksaan X-Ray juga dipergunakan untuk survey metastasis pada paru dan tulang. Apabila ada keluhan distagia, maka foto barium meal perlu untuk melihat adanya infiltrasi tumor pada esophagus.
2) Ultra Sound
Ultra Sound diperlukan untuk tumor solid dan kistik. Cara ini aman dan tepat, namun cara ini cenderung terdesak oleh adanya tekhnik biopsy aspitasi yaitu tekhnik yang lebih sederhana dan murah.
3) Computerized Tomografi
CT-Scan diperunakan untuk melihat perluasan tumor, namun tidak dapat membedakan secara pasti antara tumor ganas atau jinak untuk kasus tumor tiroid.
4) Scintisrafi
Dengan menggunakan radio isotopic dapat dibedakan hot nodule dan cold nodule. Daerah cold nodule dicurigai tumor ganas. Tekhnik ini dipergunakan juga sebagai penuntun bagi biopsy aspirasi untuk memperoleh specimen yang adekuat. 

3. Biopso Aspirasi
Pada decade ini biopsy aspirasi jarum harus banyak dipergunakan sebagai prosedur diagnostik pendahuluan dari berbagai tumor terutama pada tumor tiroid. Tekhnik dan peralatan sangat sederhana, biaya murah dan akurasi diagnostiknya tini. Dengan mempergunakan jarum tabung 10 ml, dan jarum no. 22-23 serta alat pemegang, sedia aspirator tumor diambil untuk pemeriksaan sitoloi. Berdasarkan arsitektur sitology dapat diidentifikasikan karsinoma papilek, karsinoma folikuler, karsinoma anaplastic dan karsinoma meduler.

1.6 Penatalaksanaan Medis
     1.  Terapi
Terapi pilihan untuk karsinoma tiroid adalah pembedahan untuk mengangkat tumor tersebut. Tiroidektomi total atau hamper total dilakukan bila keadaan memunkinkan. Tindakan diseksi leher yang lebih luas dilakukan jika metastase telah mencapai kelenjar lipe. Jaringan paratiroid diupayakan untuk tidak terangkat guna mengurangi resiko hipokalsemia pasca operatif dan tetanus. Sesudah pembedahan, tindakan aldasi dilaksanakan untuk melenyapkan jaringan tiroid tersisa bila tumor tersebut bersifat radiosensitive iodium radiatif juga meningkatkan peluang untuk menemukan metastasis tiroid dikemudian hari bila pemeriksaan pemindai seluruh tubuh (Unhole Body Gran) dilakukan sesudah pembedahan, hormone tiroid diberikan dengan dosis supresi untuk menurunkan kadar TSH hingga tercapai keadaan eutiroid. Jika jaringan tiroid yang tertinggal tidak cukup untuk menghasilkan hormone tiroid dengan jumlah memadai, maka preparat tiroksin dibutuhkan secara permanen. Radiasi pada kelenjar tiroid atau jaringan leher dapat dilakukan beberapa jalur : Pemberian peroral dan lewat pemberian eksterna terapi radiasi. Pasien yang dapat sumber-sumber eksternal terapi peroral dan lewat pemberian eksternal terapi radiasi menghantam resiko mengalami mukositis, kekeringan mulut, dispagia, keperakan kulit anoreksia, dan kelelahan kemoterapi jarang digunakan dalam pengobatan kanker tiroid.

2. Tiroidektomi
Tiroidektomi parsial atau total dapatdilaksankan sebagai terapi primer terhadap karsinoma tiroid, hipertiroidisme atau hipertiroidisme tipe dan luas operasi bergantung pada hasil diagnosis, tujuan pembedahan hasil prognosis peran perawat adalah dalam penatalaksanaan Pre-operatif, Intra Operatif dan Post Operasi.
1) Pentalaksanaan Pre-Operasi yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut :
(1) Inform Consent (surat persetujuan operasi) yang telah ditandangani oleh penderita atau penanggung jawab penderita.
(2) Keadaan umum meliputi semua system tubuh terutama system respirasi dan cardiovaskuler.
(3) Hasil pemeriksaan atau data penunjang serta hasil biopsy jaringan jika ada.
(4) Persiapan mental dengan support mental dan pendidikan kesehatan tentang jalannya operasi oleh perawat dan support mental oleh rohaniawan.
(5)  Konsul anestesi untuk kesiapan pembiusan
(6) Sampaikan hal-hal yang mungkin terjadi nanti setelah dilakukan tindakan pembedahan terutama jika dilakukan tiroidektomi total berhubungan dengan minum suplemen hormone  tiroid seumur hidup.

2) Penatalaksanaan Intra Operasi pesan perawat hanya membantu kelancaran jalannya operasi karena tanggung jawab sepenuhnya dipegang oleh dokter operator dan dokter anestesi.

3) Penatalaksanaan Post Operasi (diruang sadar)
(1) Observasi tanda-tanda vital pasien (GCS) dan jaga stabil.
(2) Observasi adanya pendarahan serta komplikasi post operasi.
(3) Dekatkan peralatan emergency kit atau paling tidak mudah dijangkau apabila sewaktu-waktu dibutuhkan atau terjadi hal yang tidak diinginkan.
(4) Segera mungkin beritahu penderita jika operasi telah selesai dilakukan setelah penderita sadar dari pembiusan untuk lebih menenangkan penderita.
(5)  Lakukan perawatan lanjutan setelah pasien pindah ke ruang perawatan umum.


DAFTAR PUSTAKA
NANDA, NIC-NOC 2013
Brunner, Suddarth. 2015. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. EGC
PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta. DPP PPNI.



Asuhan Keperawatan Operatif (Pre Operasi, Intra Oprasi & Post Operasi) Abses Hepar


lanjutan LP abses hepar...
Asuhan Keperawatan
(Pre operasi, Intra Operasi, Post Operasi)
STATION BEDAH

BAB II
ISI
2.1.   PENGKAJIAN
Identitas Klien
Nama                            : Tn. C                             No. RM                       : 123456
Umur                            : 40 tahun                         Tgl. MRS                    : 27 Februari 2018
Jenis kelamin                : Laki-laki                        Diagnosa                     : Abses Hepar
Suku/ Bangsa                : Lampung/ Indonesia     R. Tindakan                : Laparatomi
Agama                          : Islam                                                               
Pekerjaan                      : Wiraswasta
Pendidikan                   : Sarjana
Gol. Darah                    : 0
Alamat                          : Jakarta

A.    RIWAYAT PRE OPERASI
1.      Pasien mulai dirawat    : pukul: 15.40 tanggal: 27 Februari 2018
di ruang rawat inap kelas III 722/C
pasien diantar ke OK IGD:  pukul : 12.40 tanggal: 09 Maret 2018

2.      Ringkasan hasil amamnesa praoperatif
Klien masuk ke oka IGD dengan bantuan nafas dengan terpasang ETT dan monitor, terpasang IV line dua jalur, terpasang CVC pada jugularis kanan, GCS E2v0M4, BB: 60kg

3.      Hasil pemeriksaan fisik
a.       TTV Tanggal 09 Maret 2018, Pukul: 12:45 WIB
TD                    : 135/80 mmHg
Suhu                 : 36,7oC
Nadi                  : 108 x/menit
RR                    : 20   x/menit
Sp. O2              : 99%
Kesadaran         : GCS: E2VettM4
Orientasi           : buruk

b.      Pemeriksaan Fisik (Head to toe)
1)      Kepala dan leher                     : Kepala tampak simetris, tidak ada lesi, bersih, tidak ada benjolan. Leher tampak simetris, tidak ada lesi, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, klien terpasang CVC pada jugular kanan.
2)      Thorax dan Paru                     
Jantung                        : I = Tidak tampak letus cordis
                                      P = Denyut jantung teratur
                                      P = Bunyi sonor
                                      A = Irama jantung teratur, terdengar suara jantung S1 dan S2,   tidak                                                    terdengar bunyi murmur dan gallop

Paru                              : I = RR: 20 x/mnt, nafas teratur
                                      P = -
                                       P = Bunyi sonor
                                       A = Tidak terdengar bunyi ronkhi/ wheezing, bunyi nafas
        vasikuler

Abdomen                       : I =  Warna kulit merata dengan kulit sekitarnya, tidak ada lesi
                                       `A = Peristaltik usus 14x/menit
   P =  Teraba besar dan keras pada kuadran kanan atas
                                        P = Terdengar bunyi shiffting dulnes

3)        Ekstremitas atas dan bawah    : Ekstremitas atas terpasang IV line kanan dan kiri, tidak ada                                                                  lesi
4)      Genetalia dan rectum              : Bersih, tidak ada lesi, terpasang DC, tidak ada kelainan, tidak ada                                                           hemoroid

4.      Pemeriksaan penunjang
a.       USG Abdomen (23 Februari 2018)
Hasil : hepatomegali disertai abses pada hepar lobus kanan
b.      Thorax (22 Februari 2018)
Hasil: tidak tampak kelainan radiologis pada jantung dan paru
c.       Hasil Laboratorium (06 Maret 2018)

HEMATOLOGI (DARAH)
Darah Perifer Lengkap
-          Hemoglobin                          L 9.2                           g/dL
-          Hematokrit                            L 27.6                         %
-          Eritosit                                  L 3.46                         10^6/µL
-          MCV / VER                          L 79.8                         fL
-          MCH / HER                          L 26.6                         pg
-          NCHC / KHER                    33.3                             g/dL
-          Jumlah Trombosit                  27.6                             10^3/µL
-          Jumlah Leukosit                    H 20.17                       10^3/µL
Hitung Jenis
-          Basofil                              0.6                               %
-          Eosinofil                           L 0.0                           %
-          Neutrofil                           H 83.7                         %
-          Limfosit                            L 6.8                           %
-          Monosit                            H 8.9                           %
-          Selisih                               0.0                               %
-          RDW-CV                              14.3
-          RDW-SD                              H 37.5
HEMOSTASIS (DARAH)
PT + INR
MASSA PROTOMBIN (PT)
Pasien                                             H 13,4 detik
Control                                           10.9 detik
INR                                                1,30    
APTT        
Pasien                                             H 48,3 detik
Control                                           31,3 detik

Kimia darah, tanggal 05 Maret 2018
Albumin                                           L 2,37 g/dL
Bilirubin                                          
Bilirubi total                                     H 1,25 mg/ dL
Bilirubin direx                                  H 0,82 mg/dL
Bilirubin indirex                               0,43 mg/dL
FE (SI) – TIBC
Serum iron (FE)                               L 22 µg/dL
TIBC                                                L 113 µg/dL
Saturasi tranferin                             19%
Ferritin                                             H1322,0 ng/ml

d.     Prosedur Khusus Sebelum Pembedahan
No
Prosedur
Ya
Tidak
Keterangan
1


Tindakan persiapan psikologi pasien



Ya

Berdoa menurut keyakinanan yang dianut
Berikan latihan  nafas dalam dan meyakinkan pasien bahwa tim medis akan melakukan yang terbaik untuk kesembuhan klien.
2.
Lembar Informed consent
Ya

Klien dan keluarga telah menyetujui akan dilakukan tindakan operasi
3
Puasa
Ya

Klien berpuasa selama 6 jam
4
Membersihkan kulit  (pencukuran area operasi )
Ya

Klien mandi chlorhexidin 4% sebanyak 1 kali
5
Membersihkan saluran pencernaan (lavement / obat pencahar)

Tidak
Klien tidak diberikan obat pencahar
6
Pengosongan kandung kemih
Ya

Untuk memantau intake dan output
7
Persiapan Transfuse darah
Ya

Mengantisipasi resiko perdarahan
8
Terapi cairan infuse
Ya

Klien terpasang cairan infuse 20 tts / menit
9
Penyimpanan perhiasan, aksesoris ,kacamata, dan anggota tubuh yang palsu

Tidak
Klien tidak menggunakan perhiasan , aksesoris, kacamata, anggota tubuh palsu
10
memakai baju khusus operasi
Ya

Mengurangi resiko infeksi.

5. Pemberian Obat Obatan
a.       Obat premedikasi
1)      Ranitidine 50mg IV (09 Maret 2018 pukul 07.00)
2)      Lactulac 10mg IV (09 Maret 2018 pukul 07.00)
b.      Obat pra-pembedahan
1)      Dexametason 10mg IV (09 Maret 13.20)
2)      Ondansentron 4mg IV (09 Maret 13.20)
3)      Keterolac 3mg (09 Maret 13.20)

6. Pasien dikirim ke ruang operasi
Tanggal: 09 Maret 2018 pukul 13.05

A.    INTRAOPERATIF
1)      Tanda tanda vital, tanggal  09 Maret 2018 pukul 13.10 wib
TD                   : 130/80 mmHg
Suhu                : 36,5 oC
Nadi                : 110 x/menit
RR                   : 21   x/menit
Sp.O2              : 99 %
2)      Posisi pasien dimeja operasi : supine
3)      Jenis operasi : laparatomi (mayor)
5)      Pemberian obat anastesi: General
Tgl/jam
Nama Obat
Dosis
Rute
09/2/2018 13.30
Propofol
350 mcg
Injeksi IV
09/2/2018 13.30
Fentanyl
150 mg
Injeksi IV
09/2/2018 13.30
atracurium
140mg
Injeksi IV
09/2/2018 13.30
Sefofluran
2%
inhalasi

6)      Tahap tahap atau kronologi pembedahan
Pasien telah sign in pada pukul 12.45 terpasang iv line dua jalur di tangan kanan dan kiri dan terpasang CVC pada jugular kanan, klien terpasang kateter, monitor, dan ETT. Kemudian pasien di pindahkan ke kamar operasi pada pukul 13.05 lalu dilakukan pemasangan warm blanket. Dokter anestesi melakukan tindakan induksi pada pukul 13.30 posisi pasien supine. Operator, asisten, dan perawat instrumen melakukan scrubbing, gaunning, dan gloving. Kemudian perawat instrumen menyusun set laparatomi, asisten operator melakukan aseptik area operasi dan drapping area operasi. Perawat sirkuler memulai time out pada pukul 14.00 dan pada pukul 14.02 operator memulai insisi mid line menembus kutis, subkutis, dan otot, hingga peritoneum. Ketika peritoneum dibuka, tidak ada pus yang keluar. Tampak hepar ukuran membesar memenuhi aper kuadran kanan, abdomen hingga diafragma kanan ke arah atas. Permukaan hepar urai, pada segmen empat hepar tampak bagian yang bulding dan fluktuatif, dilakukan insisi pada bagiang yang paling fluktuatif. Keluar pus kekuningan sebanyak 1300 ml. Pus di suction hingga bersih lalu daerah abses yang terbuka dan rongga abdomen di cuci hingga bersih dengan cairan NACL 0,9% sebanyak 4000cc. Di pasang drain subhepatik dan pelvic floor, difikasasi kedinding abdomen. Kemudian sirkuler melakukan sign out pada pukul 17.45. Operasi di tutup lapis demi lapis dan dilakukan dressing. Operasi selesai pukul 18.30 . Perdarahan 50 ml, urin 400 cc. Infus Asering 1550 cc .
Instrumen yang digunakan :
Set laparatomi dewasa 3
Rintang                                     :1
 Scapel no 4 dan 3                     :1
 Pinset sirugis                            :1
 Pinset anatomis                        :2
  Pinset kouter                            :2
Pinset anatomis panjang           :1
 Gunting jaringan panjang        :1
  Guning jaringan                       :3
Gunting benang                        :1
Needle holder sedang               :2
Needle holder panjang              :1
Towel klem                               :4
 Klem bengkok                          :6
 Klem koher                               :6
 Klem usus                                 :6
 Prepare 60º                               :3
 Klem Babchoek                        :1
Klem elis                                   :1
Langen back                             :2
O hak                                        :2
 Liver hak                                  :2
 Buik hak                                   :2
 Spatula                                      :1
Ujung suction seribu                 :1
Bengkok                                   :1
  Kom                                         :1
Jumlah instrumen                      : 55
       Bahan habis pakai :
 Kassa besar                                : 20
Kassa roll besar                          
 Kassa roll kecil                           :1
Dapper                                        : 1
 Jarum                                          : 6
 NACL 0,9%                               : 8 (500ml)
 Supratul                                      : 1
 Hypafix                                      : 1
Bisturi                                        : 23 dam 11
Alkohol 70%                             
Povidon iodine                          

7)      Tindakan bantuan yang diberikan selama pembedahan :
a.       Pemberian oksigen
b.      Pemberian suction
c.       Pemasangan drain
d.      Pemeriksaan Patologi Anatomi (PA jaringan hepar dan kultur pus hepar)

8)      Pembedahan berlangsung selama 4 jam,  jam operasi dimulai pukul 14.00 dan jam operasi selesai pukul 17.45
9)      Komplikasi dini setelah pembedahan (saat pasien masih diruang operasi) tidak ada komplikasi

A.    POST OPERASI 
a.       Air way             : klien terpasang ETT
b.      Breathing          : RR : 20x/menit, tidak menggunakan bantuan otot pernafasan
c.       Sirkulasi            : Tekanan Darah 100/ 60 mmHg, Nadi : 110x/menit, Suhu: 35,9 oC, Sp O2: 99% klien DPO (dalam pengaruh obat), akral dingin,
d.      Observasi  : aldret score
No
Criteria
Skor
Skor
Saat selesai operasi jam 18.30
1
Warna kulit
-          Kemerahan
-          Pucat
-          Sianosis

2
1
0
1
2
Aktivitas motoric
-          Gerak 4 anggota tubuh
-          Gerak 2 anggota tubuh
-          Tidak ada gerakan

2
1
0
1

3
Pernapasan
-          Napas dalam, batuk dan kuat
-          Nafas dangkal dan kuat
-          Apnea atau nafas tidak adekuat

2
1
0
1

4
Tekanan darah
-          ± 20 mmhg dari pre operasi
-          20-50 mmhg dari pre operasi
-          ± 50 mmhg dari pre operasi

2
1
0

1
5
Kesadaran
-          Sadar penuh mudah dipanggil
-          Bangun jika dipanggil
-          Tidak ada respon

2
1
0

0


Jumlah
4
Skor Aldrete < 8 . Pasien diantar ke ruang : ICU pukul 19.40


BAB III
PEMBAHASAN

1.1.   ANALISA DATA
Data Subjektif & Obyektif
Masalah Keperawatan
Etiologi
PRA OPERATIF
DS : -
DO :
-           Klien tampak terpasang ETT,
-           GCS:  E2VettM4
-           TTV :
TD: 130/90 mmHg
Suhu: 36,7oC
Nadi: 100 x/menit
RR: 20   x/menit
Sp.O2 : 99%
 FF
Resiko ketidakefektifan pola nafas
Hambatan upaya napas
INTRA OPERATIF
DS: -
DO:
-          Posisi supine
-          Pasien akan dilakukan laparatomi (pembedahan mayor),
-          Pasien dilakukan anastesi general,
-          Menggunakan alat-alat elektrosurgery selama pembedahan
-          Pasien terpasang IV line, kateter, ETT, CVC, monitor, dan penghantar elektroda

DS: -
DO:
-          Pasien terpasang IV line
-          Pasien terpasang CVC
-          Pembedahan 4 jam
-          Output cairan
Perdarahan ±50 cc
Urin output ±400 cc
Pus abdomen ±1300 cc
IWL: 15 x 60kg= 900 cc/24 jam= 3,75 x 4jam= 15 cc
-          Intake cairan
Infus asering 1500 cc selama pembedahan
Cairan obat : ±50cc
-          Balance cairan =  intake – output = (1550+50)- (50+400+1300+15) = 1.600 - 1.765= - 165cc

DS: -
DO:
-          Akan dilakukan operasi laparatomi,
-          kan dilakukan Incisi didaerah midline abdomen

Resiko Cidera















Resiko ketidakseimbangan volume cairan






















Resiko Infeksi
Anestesi narkotik















Output berlebih
 






















Prosedur Invasif
POST OPERATIF
DS : -
DO :
-           Klien tampak terpasang ETT
-           Nafas dangkal dan kuat
-           GCS:  E2VettM4
-          Alderete Score: 4
-           TTV
TD: 100/60 mmHg
Nadi: 110 x/menit
RR: 21  x/menit
Sp.O2: 99%
Resiko ketidakefektifan pola nafas

Hambatan upaya napas
DS : -
DO :
-          Akral dingin
-          Suhu tubuh : 35,9 oC
-          Suhu lingkungan operasi : 20 oC
-          Pasien masih dalam pengaruh anestesi umum dalam pem bedahan
Hipotermi
Terpajan suhu lingkungan rendah
DS : -
DO :
-          GCS : E2VettM4
-          Pasien dalam pengaruh anestesi umum
-          Klien di pindahkan dari meja operasi ke brankar
-          Klien dikirim ke ruang ICU
-          Klien terpasang ETT, monitor, kateter, IV line, CVC
Resiko cidera
Agen farmakologi

1.2.   DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.2.1.      PREOPERASI
a.       Resiko etidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hambatan upaya nafas
1.2.2.      INTRA OPERASI
a.       Resiko cidera b.d agen farmakologi
b.      Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d output berlebih
c.       Resiko infeksi b.d prosedur invasif
1.2.3.      POST OPERASI
a.       Resiko ketidakefektifan pola nafas b.d
b.      Hipotermi b,d Terpajan suhu lingkungan rendah
c.       Resiko cidera b.d agen farmakologi

1.3.   INTERVENSI
PREOPERASI
NO
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
1
Resiko ketidakefektifan pola nafas b.d hambatan upaya napas
  • Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola napas efektif, dengan kriteria hasil:
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal
  • Jalan napas paten

1.      Monitor TTV
2.      Posisikan semi fowler
3.      Pertahankan ETT
4.      Kolaborasi pemberian O2



                                                           INTRAOPERATIF
No
Dx Kep.
Tujuan
Intervensi
1
Resiko cidera b.d agen farmakologi
  • Setalah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan tidak terjadi cidera, dengan kriteria hasil :
  •  Tubuh klien bebas dari cidera 

1.      Pastikan posisi pasien yang sesuai dengan tindakan operasi
2.      Cek integritas kulit
3.      Cek daerah penekanan pada tubuh selama operasi
4.      Hitung jumlah kasa, jarum, bisturi, dapper, dan instrumen bedah
5.      Lakukan time out
6.      Lakukan sign out


2
Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d output berlebih
  • Setalah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan volume cairan dalam keadaan seimbang, dengan kriteria hasil :
  • Tidak ada tanda tanda dehidrasi (elastisitas tugor baik, membran mukosa lembab)
  • Mempertahankan urine output sesuai dengan usia  dan BB

1.      Pertahankan keseimbangan cairan
2.      Pertahankan iv line dan CVC
3.      Pantau urine output
4.      Kolaborasi dengan anastesi dalam penatalaksanaan cairan
5.      Kolaborasi dengan operator dalam penghentian perdarahan (pemberian klem, koter, dan dapper)


3
Resiko infeksi b.d prosedur invasif
  • Setelah dilakukan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil :
  • Tidak ada tanda tanda infeksi (rubor, kalor, dubor, tumor, fungsio laesa)

1.      Pertahankan APD (masker dan topi)
2.      Lakukan scrubbing
3.      Lakukan gaunning
4.      Lakukan gloving
5.      Lakukan aseptik area operasi
6.      Lakukan drapping
7.      Pertahankan prinsip steril


POSTOPERATIF
NO
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
1
Resiko ketidakefektifan pola nafas
  • Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola napas efektif, dengan kriteria hasil:
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal
  •  Jalan napas paten

1.      Monitor TTV
2.      Posisikan semi fowler
3.      Pertahankan ETT
4.      Kolaborasi pemberian O2


2
Hipotermi b.d terpajan suhu lingkungan rendah
  • Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suhu tubuh klien dalam rentan normal, dengan kriteria hasil:
  • TTV dalam batas normal
  • 36,5- 37,5 celsius

1. Monitor TTV
 2.    Berikan selimut penghangat
 3.    Monitor suhu lingkungan

3
Resiko cidera b.d agen farmakologi
  • Setalah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan tidak terjadi cidera, dengan kriteria hasil:
  • Tubuh klien bebas dari cidera

1.      Monitor keamanan dan fungsi alat-alat medis yang terpasang pada tubuh klien
2.      Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
3.      fiksasi roda brankar saat memindahkan pasien
4.      Pasang side rail tempat tidur

1.4.   IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
PREOPERASI

No
Dx. Kep
Implementasi
Evaluasi

1
Resiko ketidakefektifan pola nafas b.d hambatan upaya napas
1.      Memonitor TTV
2.      Memposisikan semi fowler
3.      Mempertahankan ETT
4.      Kolaborasi pemberian O2
S : -
O:
      Posisi klien semi fowler
      Klien terpasang ETT
          GCS:  E2VettM4
        TTV :
TD: 135 /90 mmHg
Suhu: 36,7oC
Nadi: 100 x/menit
RR: 20   x/menit
Sp.O2 : 99%
A: Resiko ketidakefektifan pola nafas
P : Pertahankan Intervensi

INTRAOPERASI

No
Dx. Kep
Implementasi
Evaluasi

1
Resiko cidera b.d anestesi narkotik

1.      Memaastikan posisi pasien yang sesuai dengan tindakan operasi
2.      mengecek integritas kulit
3.      mengecek daerah penekanan pada tubuh selama operasi
4.      Menghitung jumlah kasa, jarum, bisturi, dapper, dan instrumen bedah
5.      Melakukan time out
6.      Melakukan sign out


S :
O:
 - Posisi supine
    Integritas kulit baik
-      -  Pasien dengan anastesi general
    Time out dilakukan pukul 14.00
    - Intrumen menggunakan set laparatomi :
Kasa : 27
Jarum : 6
Instrumen : 55
- Sign out dilakukan pukul 17.45
A : Resiko Cedera
P : Pertahankan intervensi


2
Resiko ketidakseimbangan volume cairan b.d output berlebih

1.      Mempertahankan keseimbangan cairan
2.      Mempertahankan iv line dan CVC
3.      Memantau urine output
4.      Berkolaborasi dengan anestesi dalam penatalaksanaan cairan
5.      Berkolaborasi dengan operator dalam penghentian perdarahan (pemberian klem, koter, dan dapper)
S : -
O :
- Pasien terpasang IV line
- Pasien terpasang CVC
- Urin output =±400cc
- Balance cairan =  - 165cc
A :
Resiko ketidaskseimbangan volume cairan
P : 
Pertahankan intervensi

3
Resiko infeksi b.d prosedur invasif
  1.     Mempertahankan APD (masker dan topi)
  2.     Melakukan scrubbing
  3.     Melakukan gaunning
  4.     Melakukan gloving
  5.     Melakukan aseptik      area operasi
  6.    Melakukan drapping
  7.    Mempertahankan prinsip steril

S :
O :
Dilakukan Incisi didaerah midline abdome
- Operator, asisten, perawat instrumen telah melakukan scrubbing, gaunning, dan gloving
- Asisten operator melakukan aseptik area operasi dan drapping
A : Resiko Infeksi
P : 
Pertahankan Intervensi
-           

NO
Diagnosa
Implementasi
Evaluasi
1
Resiko ketidakefektifan pola nafas b.d hambatan upaya napas
1.      Memonitor TTV
2.      Memposisikan semi fowler
3.      Mempertahankan ETT
4.      Kolaborasi pemberian O2
S: -
O:
 Klien terpasang ETT
 Posisi klien semi fowler
- Nafas dangkal dan kuat
 GCS:  E2VettM4
Alderete Score: 
- TTV
TD: 100/60 mmHg
Nadi: 110 x/menit
RR: 21 x/menit
Sp.O2 : 99 %
A: Resiko ketidakefektifan pola nafas
P: Petahankan intervensi
2
Hipotermi b.d terpajan suhu lingkungan rendah
      1.Memonitor TTV
2.Memberikan selimut penghangat
 Memonitor suhu lingkungan

S:-
O:
- Akral hangat
- Suhu tubuh : 36,6 oC
    - Suhu lingkungan: 20 oC
A: Masalah teratasi
P: Hentikan intervensi
3
Resiko cidera b.d agen farmakologis
   1. Memonitor keamanan dan fungsi alat-alat medis yang terpasang pada tubuh klien
2.      Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
3.      Memfiksasi roda brankar saat memindahkan pasien
4.      Memasang side rail tempat tidur

S: -
O:
- GCS : E2VettM4
Klien terpasang ETT, monitor, kateter, IV line, CVC
- Klien dipindahkan ke ICU
A: Resiko cedera
P:
Pertahankan Intervensi


PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN INSTRUMEN BEDAH OPERASI

          BAB I PENDAHULUAN 1.1.    Latar Belakang Instrumen adalah aset utama dan menunjukan angka yang besar pada pembelajaran total rum...